CIANJUR, 01/07/2026 - Di sebuah sudut kampung Kimerak, Desa Bojong Picung, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, setiap hari seorang pemuda sederhana mendorong gerobak kecil berisi cimol dan siomay. Dari balik kepulan uap panas dan kesibukan melayani pembeli, tersimpan sebuah mimpi besar yang mungkin tidak pernah disadari oleh banyak orang.
Tomy Wage Santosa, berusia 31 tahun, bukan anak pejabat, bukan pula anak pengusaha kaya. Ia bukan berasal dari keluarga yang memiliki kemudahan finansial ataupun fasilitas pendidikan yang serba lengkap. Ia hanyalah seorang penjual cimol dan siomay yang menggantungkan penghasilan hariannya dari setiap pembeli yang datang.
Namun, ada satu hal yang membuat Tomy berbeda, ia percaya bahwa kemiskinan bukan alasan untuk berhenti belajar.
Saat banyak orang berpikir bahwa pendidikan tinggi hanya dapat diraih oleh mereka yang tinggal di kota besar atau berasal dari keluarga berada. Tomy membuktikan sebaliknya, ia memilih melanjutkan pendidikan di Universitas Terbuka, Program Studi S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), UT Bogor.
Perjalanannya menuju bangku kuliah tidak pernah mudah, tidak jarang ia membayar biaya registrasi kuliah menggunakan uang recehan yang telah lama ia kumpulkan dari hasil berjualan cimol dan siomay. Koin demi koin yang mungkin dianggap kecil oleh sebagian orang, baginya adalah investasi terbesar untuk mengubah masa depan.
Setiap recehan itu bukan sekadar uang, recehan itu adalah harapan, recehan itu adalah doa. Recehan itu adalah bukti bahwa mimpi tidak selalu dibangun dengan kemewahan, tetapi dengan ketekunan dan pengorbanan.
Semangat Tomy juga terlihat dari kesungguhannya mengikuti Tutorial Tatap Muka (TTM), meskipun layanan tersebut berbayar. Baginya, setiap ilmu yang diperoleh merupakan bekal untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ia tidak mencari jalan yang mudah, melainkan jalan yang membuatnya terus bertumbuh.
Bahkan ketika jadwal Ujian _Online_ tiba, Tomy rela menutup sementara gerobak dagangannya, artinya, pada hari itu ia harus mengorbankan pendapatan yang biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pilihan itu tentu tidak ringan, tetapi Tomy memahami bahwa ada investasi yang nilainya jauh lebih besar daripada penghasilan satu hari, yaitu investasi pendidikan.
Kisah ini mengajarkan kepada kita, bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari kemudahan. Justru sering kali, orang-orang hebat ditempa oleh kesulitan yang mereka hadapi dengan penuh kesabaran dan keyakinan.
Di tengah perkembangan teknologi saat ini, dunia pendidikan telah mengalami perubahan besar. Ruang kelas tidak lagi dibatasi oleh empat dinding, buku tidak lagi hanya tersimpan di perpustakaan, guru tidak lagi selalu berada di depan kelas.
Kini, siapa pun dapat belajar dari mana saja, selama memiliki kemauan.
Pendidikan tanpa batas ruang dan waktu bukan lagi sekadar slogan. Kini telah menjadi kenyataan. Pendidikan tidak lagi memerlukan dinding kelas, ruang belajar sejati adalah pikiran manusia. Gedung sekolah hanyalah fasilitas, bukan penentu masa depan.
Yang menentukan masa depan adalah semangat untuk terus belajar. Pendidikan bukan milik orang kota, pendidikan bukan milik orang kaya. Pendidikan adalah hak setiap warga negara yang berani bermimpi dan bersungguh-sungguh memperjuangkannya.
Jarak tidak mampu menghentikan seseorang untuk belajar, tempat tinggal tidak menentukan kualitas cita-cita, keterbatasan ekonomi bukan penghalang bagi mereka yang memiliki tekad kuat.
Yang sesungguhnya membatasi pendidikan hanyalah cara manusia memandang pendidikan itu sendiri.
Bagi sebagian orang, kemiskinan menjadi alasan untuk menyerah. Namun bagi Tomy Wage Santosa, kemiskinan justru menjadi alasan untuk terus bangkit, ia mengajarkan bahwa tidak ada pekerjaan yang hina, yang ada hanyalah seseorang yang berhenti bermimpi karena merasa dirinya tidak mampu.
Gerobak cimol yang setiap hari ia dorong bukan sekadar alat mencari nafkah. Gerobak itu adalah kendaraan menuju masa depan. Recehan yang ia kumpulkan bukan sekadar hasil jualan.
Recehan itu adalah tangga menuju gelar sarjana.
Perjuangan Tomy adalah pengingat bagi seluruh generasi muda Indonesia, bahwa kesempatan tidak selalu datang dalam bentuk kemudahan. Kadang kesempatan hadir dalam bentuk perjuangan yang panjang, penuh pengorbanan, dan air mata. Mereka yang berani bertahan akan menuai hasil yang luar biasa.
Untuk para pemuda Indonesia yang hari ini merasa hidupnya sulit, jangan pernah menyerah hanya karena keadaan. Jangan merasa rendah diri hanya karena berasal dari desa, dari keluarga sederhana, atau harus bekerja sambil kuliah.
Ingatlah, bahwa masa depan tidak ditentukan oleh tempat kita dilahirkan, tetapi oleh keberanian kita untuk terus belajar. Jangan biarkan keadaan hari ini mencuri mimpi-mimpi besar yang telah Tuhan titipkan dalam hati kita.
Suatu hari nanti, mungkin Tomy Wage Santosa akan lulus sebagai seorang sarjana. Gelar itu bukan hanya miliknya, tetapi juga menjadi simbol kemenangan bagi seluruh anak-anak Indonesia yang berjuang dalam keterbatasan.
Semoga kisah Tomy menjadi cahaya bagi mereka yang hampir menyerah, menjadi harapan bagi mereka yang sedang berjuang, dan menjadi bukti bahwa pendidikan benar-benar mampu mengubah kehidupan.
Karena sesungguhnya, pendidikan bukan tentang seberapa mewah ruang kelas tempat kita belajar, tetapi seberapa besar kemauan kita untuk terus belajar.
Pendidikan bukan milik orang kota, bukan pula milik orang kaya. Pendidikan adalah milik mereka yang tidak pernah berhenti bermimpi, berjuang, dan percaya bahwa masa depan selalu dapat diperjuangkan.
Untuk seluruh anak muda Indonesia, _"Jangan malu berasal dari desa, jangan malu bekerja sambil kuliah. Jangan malu memulai dari bawah. Malulah jika berhenti belajar, ketika kesempatan masih terbuka, sebab sejarah selalu ditulis oleh mereka yang berani bermimpi lebih tinggi daripada keterbatasannya."_ Semoga bermanfaat!
CIANJUR, 01/07/2026
Memet Casmat, Dosen di UT Bogor
#Menulis Caraku Mengikat Ilmu