Pewawancara : Diyah Wulandari *)
Penulis : Memet Casmat **)
BOGOR, 01/01/2026 - Di sebuah ruang Ujian Online di SMP Negeri 1 Cianjur, Jawa Barat, tersaji sebuah pemandangan sederhana namun sarat makna. Seorang perempuan muda duduk tenang di depan layar komputer, fokus mengerjakan soal demi soal, di gendongannya, seorang anak kecil berusia dua tahun terlelap, seolah mengerti bahwa ibunya sedang memperjuangkan masa depan.
Perempuan itu adalah Elma Nurhafidah Iskandar, mahasiswa S1 Universitas Terbuka (UT) Bogor, Program Studi PGSD, semester 9.
Elma bukan sekadar mahasiswa, di usianya yang baru menginjak 26 tahun, ia telah memikul banyak peran sekaligus: sebagai ibu, sebagai istri, dan sebagai guru SD di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur.
Namun, tak satu pun peran itu menjadi alasan untuk menyerah pada mimpi. Justru sebaliknya, semua peran itu menjadi bahan bakar semangatnya.
Keputusan Elma memilih Universitas Terbuka bukan tanpa alasan, UT memberinya ruang untuk tetap belajar tanpa harus meninggalkan keluarga. Sistem perkuliahan yang fleksibel, bisa dilakukan dari rumah, dengan biaya yang terjangkau menjadi jawaban bagi kondisi hidupnya.
Bagi seorang ibu dengan anak kecil, UT bukan hanya kampus, tetapi sahabat seperjuangan. Di sampingnya, ada sosok suami setia, Agung Jaelani, yang bekerja sebagai pedagang sayur. Penghasilan sederhana tidak membuat mereka surut langkah.
Mereka berjalan beriringan, saling menguatkan, percaya bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah masa depan. Setiap tetes keringat, setiap lelah, selalu dibingkai dengan doa dan harapan.
Momen Elma mengikuti Ujian Online sambil menggendong anaknya menjadi simbol keteguhan hati seorang ibu. Tidak ada keluhan, tidak ada rasa malu, yang ada hanyalah tekad: bahwa Keterbatasan bukan penghalang untuk maju, anak yang digendongnya hari itu bukan beban, melainkan alasan terkuat mengapa ia harus bertahan dan berhasil.
Elma, memiliki motto hidup yang begitu dalam maknanya: Doa seorang ibu adalah jembatan paling kokoh menuju kesuksesan anak di masa mendatang.
Motto itu tidak hanya ia ucapkan, tetapi ia wujudkan melalui tindakan nyata, belajar di tengah kesibukan, berjuang di tengah keterbatasan, dan tetap percaya pada pertolongan Tuhan.
Kisah Elma mengajarkan kita bahwa pendidikan tidak mengenal usia, status, ataupun kondisi. Selama ada kemauan, selalu ada jalan.
Dari ruang ujian sederhana di Cianjur, Elma membuktikan bahwa seorang ibu bisa menjadi pelita bagi keluarganya, teladan bagi murid-muridnya dan menginspirasi bagi siapa pun yang hampir menyerah pada keadaan.
Semoga kisah Elma Nurhafidah Iskandar, menjadi pengingat bahwa Mimpi besar sering lahir dari hati yang paling sederhana dan perjuangan yang disertai dengan doa dan kerja keras tak pernah sia-sia. Semoga berhasil!
Bogor, 01/01/2026
*) Pegawai UT Bogor
**) Pegawai UT Bogor
#Menulis Caraku Mengikat Ilmu